Dulu, ego saya sebagai full-stack developer itu setinggi langit. Di kepala saya, koding adalah solusi mutlak. Ada masalah? "Gampang, gw buatin aplikasinya." Saya bangga kalau bisa membangun sistem dengan arsitektur rumit, fitur bejibun, dan teknologi paling cutting-edge. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil mendigitalisasi segalanya, seolah dunia akan beres hanya dengan baris kode.
Namun, setelah saya bergeser ke bidang geospasial dan mulai melihat realita dari sisi non-teknis, saya merasa seperti ditampar kenyataan. Saya baru sadar bahwa selama ini saya sering memaksakan solusi yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kita sering terjebak dalam euforia membangun sesuatu hanya karena kita bisa, bukan karena pengguna butuh. Saya melihat sendiri bagaimana aplikasi-aplikasi megah akhirnya cuma jadi pajangan, hanya karena kita melupakan satu hal: Esensi.
Penyakit "Yang Penting Ada Aplikasi"
Masalahnya, aplikasi itu kadang justru menjadi penghambat. Di lapangan, orang butuh kecepatan. Kalau proses manual cuma butuh sepuluh detik, tapi pakai aplikasi jadi dua menit hanya karena urusan login, loading, dan klik sana-sini, jangan heran kalau aplikasi itu akhirnya ditinggalkan.
Kita juga sering terjebak dalam upaya mendigitalisasi kekacauan. Kalau proses bisnisnya memang sudah berantakan dari awal, dibuatkan aplikasi secanggih apa pun hasilnya tetap akan berantakan—bedanya, sekarang kekacauan itu sudah tersaji dalam versi digital.
Antara Ego dan Kegunaan
Ini adalah pertarungan antara ego dan kegunaan. Dulu fokus saya selalu tentang seberapa canggih sistem yang bisa saya bangun, tapi sekarang saya jauh lebih peduli tentang sesimpel apa sistem itu bisa mereka gunakan. Keluar dari dunia full-time dev mengajari saya bahwa menahan diri untuk tidak membuat aplikasi itu justru jauh lebih susah daripada mengetik ribuan baris kode. Membiarkan sesuatu tetap manual atau tetap sederhana butuh keberanian besar untuk menurunkan ego teknis kita.
Sekarang, setiap kali melihat sebuah masalah, pertanyaan pertama saya bukan lagi tentang framework apa yang akan digunakan, tapi: "Apakah masalah ini memang benar-benar butuh sebuah sistem?". Karena jujur saja, dunia ini sudah terlalu penuh dengan aplikasi yang lahir lalu mati tanpa pernah terpakai. Jangan sampai kita terus menambah daftar sampah digital itu hanya demi terlihat "IT banget".

0 Response to "Bukan Seberapa Canggih, Tapi Seberapa Berguna"
Posting Komentar