Kota yang Riuh Kacau



Aku punya 4 tempat pulang.

Probolinggo sebagai tempat lahirku.
Bali sebagai tempat aku tumbuh.
Medan sebagai rumah keduaku, istriku berasal dari sana.
Namun dari ketiganya aku lebih nyaman di Jakarta, tidak tau pasti kenapa, padahal hanya sekedar tempatku bekerja 3 tahun terakhir.

Sejauh ini Jakarta adalah rumah ternyaman.
Mungkin karena aku dan istriku memulai hidup dari kota yg terlalu sibuk ini.
Atau mungkin karena Arash lahir disini, aku tidak tau pastinya.

Terlalu sesak untuk bergerak.
Terlalu mahal untuk gajiku yang pas-pasan.
Terlalu individualis untuk sekedar bersapa "mau kemana mas".
Terlalu gerah untuk ngopi di sore hari sepulang kerja, bahkan untuk es kopi susu gula aren sekalipun.

Jika kuceritakan, maka kau akan mendengar banyak buruknya.
Karenanya aku tak paham kenapa aku menikmati kota yang riuh kacau semacam ini.
Kaupun tak akan paham sampai dirimu mati dan bereinkarnasi menjadi aku.

0 Response to "Kota yang Riuh Kacau"

Posting Komentar